Fungsi Zn Pada Padi

Seng atau Zinc (Zn) adalah hara utama penting yang dibutuhkan tanaman untuk beberapa proses biokimia dalam tanaman padi, termasuk produksi klorofil dan integritas membran. Oleh karenanya kahat Zn mempengaruhi warna dan turgor tanaman. Zn hanya sedikit mobil dalam tanaman dan sangat mobil di dalam tanah.

Zn membatasi pertumbuhan tanaman, suplai Zn tanah rendah atau kondisi tanah buruk (misalnya, selalu kebanjiran) menghalangi serapan Zn oleh tanaman. Pada kasus tertentu, Zn perlu diberikan sesuai kebutuhan. Hara lainnya perlu diberikan dalam jumlah seimbang untuk menjamin respon tanaman yang baik terhadap pupuk Zn dan pencapaian pertumbuhan tanaman yang sehat dan produktif.

Pengelolaan Zn

• Gejala kahat Zn. Tanaman kerdil dan bercak coklat berdebu pada bagian atas daun; spot-spot tanaman yang tumbuh jelek; gejala terlihat 2-4 minggu setelah tanam pindah; kehampaan gabah tinggi; pematangan terlambat dan hasil rendah; gejala kahat Zn menyerupai kahat S dan Fe pada tanah alkalin dan keracunan Fe tanah organik berdrainase buruk.

• Terjadinya kahat Zn. Kahat Zn tidak sering dijumpai, namun dapat terjadi pada tanah kalkareous dan netral; pertanaman intensif; tanah sawah yang selalu kebanjiran atau berdrainase buruk; tanah salin dan sodik; tanah gambut, tanah dengan P dan silikat ( Si) tersedia tinggi; tanah berpasir; tanah dengan pelapukan tinggi, asam, dan bertekstur kasar; tanah yang terbentuk dari serpentin dan laterik; dan tercuci, tanah sulfat masam tua dengan konsentarsi K, Mg, dan Ca rendah.

• Aplikasi Zn. Bila kahat Zn nampak di lapang, berikan 10-25 kg ZnSO4.H2O atau 20-40 ZnSO4.7H2O per ha pada permukaan tanah, atau celupkan akar bibit padi dalam 2-4% larutan ZnO sebelum transplanting (20-40 g ZnO/lt air). Tanaman dapat pulih dari kahat Zn bila sawah didrainasi – kondisi kering meningkatkan ketersediaan Zn. Tanaman hanya memerlukan sekitar 0,05 kg Zn/ha (jerami+gabah) per ton hasil gabah, namun lebih banyak pupuk Zn harus diberikan karena begitu diberikan Zn tidak selalu tersedia bagi tanaman.

• Waktu aplikasi Zn. Berikan pupuk Zn pada permukaan tanah setelah pelumpuran terakhir dan perataan lahan atau

1 Komentar

Filed under PERTANIAN

Proses Produksi Benih Bersertifikat

  1. PEMBIBITAN

Untuk memproduksi benih bermutu, pesemaian dilakukan pada areal khusus, agar terhindar dari campuran tanaman varietas lain.

  1. AREAL PERTANAMAN

Harus diperiksa sejarah lapangannya terlebih dahulu, agar tidak terjadi percampuran dengan tanaman / varietas lain sebelumnya.

  1. PERTANAMAN

Selama pertanaman di lapangan dilakukan 3 (tiga) kali seleksi untuk membuang Campuran Varietas Lain (CVL) yang dilakukan pada saat

  1. Fase Vegetatif
  2. Fase Berbunga
  3. Fase Menjelang Panen
  • PERALATAN (PANEN & PROSESING)
  • Untuk menjaga kemurnian benih semua peralatan panen dan prosesing harus diperiksa dan dibersihkan terlebih dahulu.

    1. PENGOLAHAN BENIH
      1. Perontokan / Pengupasan / Pemipilan
      2. Pembersihan kotoran
      3. Pengangkutan ke gudang
      4. Penimbangan berat & checking awal
      5. Pengeringan kadar air ± 11-13 %
      6. Pembersihan kembali
    2. PENGUJIAN LABORATORIUM

    Meliputi Mutu Genetis, Fisiologis, Fisik.

    1. PELABELAN

    Label dikeluarkan oleh BPSB, sesuai dengan kelas benihnya :

    • Kelas BD Warna Putih
    • Kelas BP Warna Ungu
    • Kelas BR Warna Biru

    Umur Label

    • Padi                          : 6 (Enam) Bulan
    • Palawija                   : 3 (Tiga ) Bulan
    • Bila masa berlaku label sudah habis, benih dapat diuji ulang.

    Catatan :

    Proses sertifikasi 1 s/d 7 dilaksanakan oleh BPSB

     

    Tinggalkan komentar

    Filed under PERTANIAN

    Cara Menggunakan BWD

     

     

    Agar efektif dan efisien , penggunaan pupuk disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan ketersediaan hara dalam tanah . Kebutuhan N tanaman dapat diketahui dengan cara mengukur tingkat kehijauan warna daun padi menggunakan bagan warna daun (BWD) .Cara menentukan waktu aplikasi pupuk N dengan menggunakan BWD dapat dilakukan dengan 2 cara :

     

    1. A.   Cara penggunaan BWD waktu tetap (fixed time)

    Waktu pemupukan ditetapkan lebih dahulu berdasarkan tahap pertumbuhan tanaman,antara lain fase pada saat anakan aktif dan pembentukan malai atau saat primordia. Pembacaan BWD hanya dilakukan menjelang pemupukan kedua (tahap anakan aktif, 23-28 HST) dan pemupukan ketiga (tahap primordia, 38-42 HST). Jika nilai pembacaan BWD berada di bawah nilai kritis (< 4,0). Maka dosis pupuk N yang diberikan dinaikkan 25 % dari jumlah yang sudah ditetapkan.Jika hasil pembacaan BWD di atas nilai kritis (> 4,0), maka dosis pupuk N yang diberikan dikurangi sekitar 25% dari jumlah yang ditetapkan

    a.Target hasil 6 ton/ ha (rendah)

    Pemupukan dasar

    < 14 HST

    Pemupukan susulan I:

    23-28 HST

    1

    Pemupukan susulan II:

    38-42 HST

    BWD

    Kg Urea/ha

    BWD

    Kg Urea/ha

    0-20 kg N / ha

    > 4

    50

    > 4

    75

    = 4

    75

    = 4

    100

    < 4

    100

    < 4

    125

    b.Target hasil 7 ton/ ha (tinggi)

    Pemupukan dasar

    < 14 HST

    Pemupukan susulan I:

    23-28 HST

    Pemupukan susulan II:

    38-42 HST

    BWD

    Kg Urea/ha

    BWD

    Kg Urea/

    ha

    30 kg N / ha

    > 4

    75

    > 4

    100

    = 4

    100

    = 4

    125

    < 4

    125

    < 4

    150

    1.  
    1. B.   Cara penggunaan BWD waktu sebenarnya (real time)
    • Sebelum berumur 14 hari setelah tanam pindah (HST) , tanaman padi diberi pupuk dasar N dengan takaran 50-70 kg per hektar. Pada saat ini BWD belum diperlukan.
      • Pengukuran tingkat kehijauan daun padi dengan BWD dimulai pada saat tanaman berumur 25-28 HST. Pengukuran dilanjutkan setiap 7-10 hari sekali sampai umur tanaman  dalam kondisi bunting atau fase primordial. Khusus untuk padi hibrida dan padi tipe baru, pengukuran tingkat kehijauan daun tanaman dilakukan sampai tanaman sudah berbunga 10 %.
      • Pilih secara acak 10 rumpun tanaman sehat pada hamparan yang seragam, lalu pilih daun teratas yang telah membuka penuh pada satu rumpun.
      • Taruh bagian tengah daun di atas BWD, lalu bandingkan warna daun tersebut dengan skala warna pada BWD. Jika warna daun berada diantara dua skala warna di BWD, maka gunakan nilai rata-rata kedua skala tersebut.
      • Pada saat ppengukuran daun tanaman dengan BWD, petugas tidak boleh menghadap sinar matahari, karena dapat mempengaruhi nilai pengukuran.
      • Bila memungkinkan, setiap pengukuran dilakukan pada waktu dan oleh orang yang sama, supaya nilai pengukuran lebih akurat.
      • Jika lebih 5 dari 10 daun yang diamati warnanya dalam batas kritis atau dengan nilai rata-rata kurang dari 4,0 maka tanaman perlu segera diberi pupuk N dengan dosis sebagai berikut.
      • 50-70 kg urea per hektar pada musim hasil rendah.
      • 75-100 kg urea per hektar pada musim hasil tinggi.
      • 100 kg urea per hektar pada padi hibrida dan tipe baru, baik pada musim hasil rendah maupun musim hasil tinggi.
      • Apabila nilai warna daun padi hibrida dan tipe baru pada saat tanaman dalam kondisi keluar malai dan 10 % berbunga berada pada skala 4 atau kurang, maka tanaman perlu diberi tambahan pupuk  N (bonus) dengan dosis 50 kg urea per hektar.

       RekomendasiPermentan No.04/OT.140/4/2007

      • Urea  250-350 kg/ha
      • SP36    50-100  kg/ha
      • Kcl     50-100 kg/ha Atau
      • Phonska   300-400 kg/ha
      • Urea          150-250 kg/ha
      • Apabila digunakan pupuk kandang ( organik ) 2 ton/ha :
      • Urea   : bisa dikurangi 25 kg/ha
      • SP36  : bisa dikurangi 50 kg/ha

      KCl      : bisa dikurangi 20 kg/ha

    Tinggalkan komentar

    Filed under PERTANIAN

    Fungsi Pengairan Macak-Macak Padi Sawah

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan air untuk padi sawah sebanyak 0,74 –1,2 l/dtk/ha, atau 6,39 – 10,37 mm/hari/ha. Kebutuhan  air terbanyak  pada  saat  penyiapan lahan sampai tanam dan memasuki fase bunting sampai pengisian bulir padi. Kebutuhan air untuk pengolahan tanah sampai siap tanam (30 hari) mengkonsumsi air 20% dari total kebutuhan air untuk padi sawah dan fase bunting sampai pengisian bulir (15 hari) mengonsumsi air sebanyak 35 %. Berdasar data tersebut sebetulnya sejak tanam sampai memasuki fase bunting tidak membutuhkan air banyak, demikian pula setelah pengisian bulir. Oleh karenanya 15 hari sebelum panen, padi tidak roboh dan ditinjau dari aspek pemberian air memang tidak perlu lagi. Pengefisienan penggunaan air di petakan dapat dilakukan dengan mengairi sawah dalam keadaan macak-macak. Setelah tanaman padi berumur 14 hari sampai periode bunting tidak memerlukan air yang banyak. Kebiasaan petani menggenangi sawahnya sampai 5 cm bahkan lebih karena petani tidak membayar air yang digunakan tersebut, sehingga cenderung bermewah-mewah dengan air. Berdasar hasil penelitian menggunakan air pada padi sawah menunjukkan bahwa sawah yang digenangi setinggi 5 cm sejak tanam sampai bunting tidak memberikan perbedaan hasil gabah dengan sawah yang diairi macak-macak. Hanya biasanya sawah yang diairi macak-macak populasi gulma lebih banyak terutama rumput-rumput berdaun sempit. Dengan irigasi macak-macak sampai periode bunting, maka air dapat dihemat penggunaannya, Tabel 1.

      Tabel 1. Hasil gabah dan konsumsi air pada berbagai pengairan

    Pola Pengairan

    Hasil gabah (t/ha) Konsumsi air (m3)

    MH

    MK

    MH

    MK

    Digenang terus

    7,21

    4,40

    6758

    7358

    Digenang (7-35)-macak macakn(36-50)-digenang (50-85)

    7,09

    4,44

    5966

    6536

    Digenang (7-50)-macak macak (50-85)

    6,92

    4,54

    5853

    6375

    Digenang (7-35)-macak macak (36-85)

    6,38

    4,52

    4025

    4903

    Macak-macak terus menerus

    6,99

    4,46

    2457

    4355

    Sumber : Didiek Setiobudi, 1987

    Keterangan

    Nilai hasil gabah dan konsumsi air merupakan rata-rata dari varietas IR 36, IR 52, IR 54 dan Bogowonto.

    Berdasarkan tabel diatas, irigasi macak-macak mampu menghemat air sebanyak 41% dan 49% masing-masing pada musim kemarau dan penghujan. Di samping itu pematang sering-sering ditambal dengan lumpur agar air tidak hilang melalui retakan-retakan pematang. Dengan demikian bila pematang selalu dalam keadaan rapat, maka kehilangan air dapat dicegah. Dengan petakan irigasi sebelah menyebelah juga salah satu cara mengurangi kehilangan air. Pengairan padi sawah dengan sistem bergilir dapat dilakukan, terutama pada musim kemarau. Hal ini mengingat suplai air dari sungai-sungai semakin menipis, hujan pun semakin sedikit padahal luas tanaman padi gadu tetap sama dengan luas tanaman padi rendeng. Bila debit air yang keluar dari bendung atau waduk < 40% dari debit normal, maka dapat dilakukan irigasi gilir giring. Sedangkan bila debit air >60% dari debit normal, maka gilir glontor dapat disarankan untuk sistem pengairannya. Irigasi gilir giring ataupun gilir glontor pada prinsipnya sama, yaitu bergilir dengan interval waktu tertentu dalam suatu blok sawah, hanya yang membedakan adalah volume air yang disalurkan ke blok tersebut. Untuk padi sawah, irigasi dengan interval waktu 7 – 10 hari tidak menunjukkan perbedaan hasil padi dibanding tanpa digilir. Efisiensi penggunaan air tidak hanya untuk tanaman padi, namun juga untuk tanaman palawija. Pada daerah tadah hujan, pengefisienan penggunaan air penting sekali, mengingat daerah tersebut tidak mempunyai air irigasi. Pada daerah ini penanaman padi dua kali membawa resiko yang besar, terutama kekurangan air pada saat tanaman membutuhkan air banyak (periode bunting samapai pengisian bulir), yang dapat berakibat terjadinya perununan hasil padi secara dastis. Untuk itu biasanya petani menanam palawija yang tidak membutuhkan air banyak. Kebanyakan palawija baik itu kacang tanah, kedelai, kacang hijau ataupun jagung hanya mengkonsumsi air sebanyak 0,25 – 0,30 dari padi sawah, tergantung umur tanamannya.

    Tinggalkan komentar

    Filed under PERTANIAN

    Cara Membuat Pupuk Organik Cair

    Pupuk organik cair adalah pupuk yang kandungan bahan kimianya    maksimal 5% , karena itu  kandungan    NPK pupuk organik cair relatif rendah  . Jika ada pupuk organik yang kandungan NPK  10 -10 -10. Dapat dipastikan pupuk tersebut palsu. Pupuk organik cair memeliki beberapa keuntungan. Pertama, pupuk tersebut mengandung zat tertentu seperti mikroorganisme yang jarang terdapat dalam pupuk organik padat . Dalam bentuk kerting, beberapa mikroorganisme mati dan zat tidak bisa aktif. Jika dicampur dengan pupuk organik padat, pupuk organik air dapat mengaktifkan unsur hara yang ada dalam pupuk organik padat.

    t  Pembuatan  Pupuk Cair Organik yang sederhana dan murah

    -       Bahan bahan yang digunakan:

    a)       Sampah organik basah……………………………………………………..12,5 kg

    b)      Cairan molase…………………………………………………………………500 ml

    c)       Air leri(air cucian beras pertama)………………………………………1L

    d)      Air kelapa yang telah tua………………………………………………….1L

    e)       Air bersih (sumur)…………………………………………………………..7L

     

    -       Alat alat

    a)    Ember plastik ukuran  20 liter yang ada tutupnya

    b)   Karung beras yang terbuat dari sintetis

    c)    Tongkat kayu panjang 50 cm

    d)   Sarung tangan karet atau plastik

    e)    Masker kain

    f)     Tali rafia

    g)    Beban

     

    -       Langkah kerja

    1. Masukkan sampah organik kedalam karung beras dan tekan sampai padat
    2. Ikat karung beras tersebut  dengan tali rafia
    3. Buat larutan media dengan menyampurkan semua bahan selain sampah organik.
    4. Masukkan karung beras berisi sampah organik kedalam larutan media sampai bahan organik terendam seluruhnya.
    5. Letakkan beban di atas karung supaya tidak mengapung.
    6. Tutup ember dengan rapat sehingga udara tidak masuk kedalam ember.
    7. Letekkan/ simpan ditempat teduh
    8. Simpan selama 7-10 hari
    9. Angkat karung yang berisi sampah organik dan pisahkan.

     

    t  Aplikasi pupuk cair

    Pupuk cair  organik bisa langsung digunakan dengan disiramkan ketanah atau disemprotkan ke daun tanaman. Kedua cara pengaplikasian tersebut juga bisa dilakukan secara bersamaan. Pupuk ini buisa diaplikasikan ke berbagai jenis tanaman sayuran, tanaman buah dan tanaman hias

    Sebagai pupuk daun, pupuk cair organik  dismprotkan langsung ketanaman. Supaya lebih efektif , penyemprotan dilakukan ketika matahari sudah terbit agar zat hara yang terkandung dalam pupuk tersebut dapat langsung dipakai oleh tanaman dalam proses fotositesis.

    Dosis ysng digunakan untuk aplikasi penyemprotan yaitu 100;1 atau 500ml air biasa dicampur dengan 5 ml pupuk organik. Pada musim hujan, penyemprotan dilakukan 1kali perminggu, sedangkan saat musim kemarau bisa dilakukan 3 hari sekali

    Sebagai pupuk akar pemupukkan dengan pupuk cair dilakukan dengan menyiram media tumbuh akar menggunakan campuran dengan perbandingan 500:1 atau  5 L air biasa dicampur dengsn 10 ml pupuk cair organik, Saat musim kemarau, pemupukan dilakukan 3 kali seminggu, sedangkan saat musim hujan sebanyak satu kali swemiggu, jumlah larutan pupuk organik yang disiramkan secukupnya sampai media tumbuh tanaman lembab. Pemakian pupuk bisa langsung disiramkan atau disemprotkan ke tanah di sekitar akar tanaman.

    Tinggalkan komentar

    Filed under PERTANIAN

    Trichoderma SP

    Trichoderma, mungkin belum banyak orang yang mengetahui apa itu trichoderma dan manfaatnya bagi pertanian. Trichoderma SP merupakan agensia hayati berupa jamur tular tanah dalam satu kemasan. Terdiri atas dua jenis jamur yaitu Jamur Trichoderma Harzianum dan Trichoderma Pseudokoningii yang mempunyai fungsi sebagai pengurai dan perangsang pertumbuhan tanaman serta mengendalikan penyakit pada tanaman. Penggunaannya pada budidaya tanaman diberikan pada awal penyiapan lahan atau dapat pula diberikan pada waktu pemberian pupuk dasar. Manfaat penggunaan Trichoderma antara lain yaitu untuk perbaikan struktur tanah, penambahan unsur hara pada tanah, sebagai organisme pengurai dalam tanah, dapat memacu pertumbuhan tanaman dan mengendalikan berbagai penyakit pada tanaman antara lain yaitu (busuk batang, busuk buah dan layu batang).

    Penggunaan Trichoderma yaitu dengan cara mencampurkan 2.5 kg Trichoderma dengan 15 Lt air yang sudah ditambahkan dengan 3 sendok gula dan 1 buah jipang yang sudah dihaluskan. Setelah itu, larutan Trichoderma disemprotkan pada 1 ton pupuk organik yang sudah matang. Komposisi pupuk organik waktu itu adalah limbah pertanian berupa sisa  tanaman jagung, kacang merah dan pupuk kandang (domba) yang dihasilkan dari kandang sendiri dan dikumpulkan disekitar lahan pertanian. Setelah Trichoderma dan pupuk tercampur rata, kemudian ditutup dengan plastik atau terpal agar terlindung dari panas dan hujan, biarkan selama 3 hari atau lebih untuk kemudian siap dipakai di lahan. Yang perlu diperhatikan dalam pembuatan pupuk organik ini yaitu bahwa Tricho merupakan makhluk hidup, jadi dalam pembuatannya tidak boleh tercampur dengan zat kimia yang bersifat racun bagi agensia hayati diantaranya yaitu pestida atau fungisida  kimia. Pada waktu penggunaannya di lahan pertanian, apabila belum bisa beralih ke pertanian organik secara total maka pemberian pupuk buatan  setelah 3 minggu pemberian pupuk dengan penambahan Trichoderma, sehingga Trichoderma lebih efektif dalam mengendalikan penyakit pada tanaman.

    Tinggalkan komentar

    Filed under PERTANIAN

    Pengembangan Teknologi Penanganan dan Pengolahan Mendukung Agroindustri Hasil Ternak

    Susu dan daging merupakan salah satu produk hasil ternak dengan kandungan gizinya yang tinggi yang diperlukan agar sehat. Produk olahan susu tradisional telah berkembang disentra-sentra produk di pangalengan  Jawa Barat yaitu karamel, dodol, kerupuk susu. Adanya olahan susu seperti yoghurt sudah populer di Indonesia, namun dadih yaitu susu fermentasi khas Sumatera Barat dengan bahan baku susu kerbau ternyata produk susu yang bernuansa tradisional itu belum populer seperti halnya yoghurt. Untuk itu dilakukan penelitian dengan mengkombinasikan dengan starter lactobacillusicu plantarum ( dadih ) dengan starter lainnya seperti lactobacillus acidephilus, lactobacillus bulgaricus dan streptococcus  thermophilus.  Penelitian  terhadap  produk  olahan  daging  seperti sosis,  &ldquo;Nugget&ldquo;,  bakso, abon dan dendeng dari daging kelinci , ayam dan sebagai pembanding yaitu daging sapi yang sudah populer.  Diketahui bahwa daging ayam khususnya daging kelinci mempunyai kandungan lemak kolestrolnya rendah sehingga kedua daging ini mempunyai potensi untuk dikembangkan.Starter bakteri lactobacillus plantarum ( dadih ) bila dikombinasikan dengan  strepto Coccus thermophilus dan Lactobacillus bulgaricus diperoleh citra rasa terbaik/enak dan sifat-sifat karakteristiknya baik dibandingkan bila  penggunaan secara tunggal dari lactobacillus

    plantarum maupun yoghurt kombinasi dari streptococcus thermophilus dan lactobacillus bulgaricus. Daya simpannya susu fermentasi pada suhu 4 0 C, selama 3 hari  diperoleh susu tetap baik. Daging yang diolaah ternyata bakso sapi, abon sapi goreng dan dendeng ayam afkir adalah paling disukai. Abon yang digoreng ternyata lebih disukai dibandingkan abon yang disangrai, namun abon yang disangrai diperoleh kadar protein lebih tinggi dan kadar lemaknya lebih rendah dibandingkan abon goreng. Kandungan lemak dari abon goreng dan sangerai dari daging kelinci adalah terendah namun kadar protein tertinggi asal daging sapi. Selama penyimpanan abon selama 11/2 bulan belum terjadi ketengikan dengan nilai TBA yang rendah. Kandungan dendeng kelinci tertinggi namun dendeng sapi terendah  kandungan lemaknya. Adapun bakso sapi dan bakso ayam afkir diperoleh kadar protein lebih rendah dibandingkan bakso kelinci. Sedangkan kadar kolestrol dari 3 jenis daging adalah rendah sekitar 0,97 &ndash; 1,63%. Starter bakteri

    Lactobacillus plantarum ( dadih ) yang merupakan produk olahan susu fermentasi asal Sumatera Barat dapat  diaplikasikan ke masyarakat bila dikombinasikan dengan lactobacillus bulgaricus dan streptococcus thermophilus. Citarasa dari produk olahan daging kelinci dan daging ayam afkir ternyata belum menyukai olahan daging sapi namun beberapa produk olahan dari daging kelinci dan daging ayam afkir mempunyai kandungan protein yang tinggi dan rendah lemak, oleh karena itu kedua daging tersebut mempunyai prospek untuk dikembangkan. b.    Susu merupakanmsalah satu produk hasil ternak yang penting bagi kehidupan melalui penyediaan zat gizi yang diperlukan bagi pertumbuhan. Namun demikian, susu juga merupakan produk yang mudah rusak, sehingga memerlukan penanganan dan pengolahan secara cepat. Transportasi dan penyimpanan, merupakan faktor kritis yang berpengaruh terhadap mutu susu.

    Usaha-usaha pengolahan susu semakin berkembang pada skala rumah tangga dan skala kecil dengan berbagai ragam produ olahannya. Usaha ini merupakan upaya pengawetan sekaligus untuk memperoleh nilai tambah atau nilai jual yang lebih tinggi, serta mengurangi ketergantungan kepada Koperasi Pengolah Susu (KPS). Masalah yang dihadapi  dalam usaha-usaha skala ini adalah teknologi pengolahan yang umumnya relatif sederhana, dalam arti kurang memperhatikan mutu hasil dan sanitasi, dengan berbagai keterbatasan sarana/peralatan. Akibatnya adalah mutu produk yang dihasilkan redah dan atau kurang aman untuk konsumsi (Sirait dkk, 1988). Berbagai >Standar of Procedures=

    (SOP) pengolahan susu telah tersedia, namun bersifat umum dan dengan asumsi bahwa berbagai sarana penunjang telah tersedia, akibatnya sulit untuk dapat diterapkan oleh para pelaku pengolahannya. Diperlukan berbagai teknologi pengolahan yang sesuai untuk setiap skala usaha pengolahan.  Produk susu pasteurisasi, yoghurt, kerupuk susu, karamel, dodol susu adalah contoh-contoh produk olahan susu yang berkembang di sentra-sentra produksi susu seperti di Lembang atau aerah-daerah lainnya.

    Pasteurisasi susu pada umumnya dilakukan dengan pemanasan susu sampai suhu tertantu kemudian dikemas. Teknologi ini seerhana namun masih memungkinkan kontaminasi bakteri dan waktu penyimpanan yang relatif pendek. Teknik lainnya adalah melalui penambahan aditif terlebih dahulu, dikemas kemudian dipanaskan pada air mendidih. Teknik kedua ini lebih menjamin keamanan produk., namun lebih rumit dan pemanasan dapat merusak sebagian aditif, terutama yang bersifat aromatis, dan selain itu hanya dapat dilakukan pada kemasan yang tak rusak karena air panas, seperti botol. Diperlukan kombinasi teknologi yang dapat menjamin kedua Konsentrasi aditif seperti gula, juga berpengaruh terhadap waktu penyimpanan, sedangkan adiktif lainnya berpengaruh terhadap rasa, aroma dan >flavor=. Penambahan jenis aditif dan konsentrasinya diperlukan untuk menciptakan produk yang lebih bermutu dan disukai.

    Susu fermentasi atau lebih dikenal sebagai yoghurt, juga merupakan salah satu produk olahan susu yang semakin populer. Mutu yoghurt, termasuk rasa, aroma dan keawetannya, ditentukan oleh jenis dan mutu bahan baku dan jenis bakteri fermenter (Tamine dan Robinson, 1988 dalam Setiyanto, 1999). Berbagai jenis bahan baku dan bakteri fermenter serta imbangannya akan dipelajari dalam kegiatan ini. Potensi, peluang, masalah dan kendala yang dihadapi oleh pengolah pada berbagai skala usaha akan dipelajari melalui survai dengan wawancara semi terstruktur dan observasi langsung. Pengolahan untuk memperoleh untuk teknologi yang lebih baik dipelajari di laboratorium dan didemonstrasikan pada kelompok pengolahan produk susu. Daging yang merupakan produk hasil ternak yang berperanan penting dan dibutuhkan dalam kehidupan umat manusia, namun juga merupakan produk yang mudah rusak dan busuk, sehingga memerlukan penanganan segera, terutama apabila tak terserap pasar. Selain itu produk-produk olahan daging ternyata memiliki nilai tambah cukup tinggi dan bahkan beberapa diantaranya memiliki potensi ekspor seperti abon dan dendeng. Berbagai produk olahan daging lainnya seperti sosis, nugget, bakso, meat loaf, hamburger Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian http://mekanisasi.litbang.deptan.go.id Powered by Joomla! Generated: 8 June, 2009, 03:50dan kornet cukup populer dalam menu makanan masyarakat di Indonesia. Namun demikian, sebagaimana umumnya terjadi pada usaha-usaha skala rumah tangga, kecil dan menengah, teknologi pengolahan perlu diperbaiki untuk menghasilkan produk yang lebih bermutu dan berdaya saing. Selain itu, keterbatasan ketersediaan daging sapi atau ayam merupakan salah satu hambatan dalam pengembangan produk olahan daging. Salah satu upaya pemecahan  ini adalah melalui daging kelinci. Kelinci mudah tumbuh dan berkembang biak dalam waktu relatif cepat, sehingga dapat menyediakan daging dalam relaif besar. Masalah yang dihadapi  adalah, masalah psikis (yang mungkin dapat diatasi

    dengan membuat produk olahan) dan masih terbatasnya ketersediaan daging kelinci. Padahal abon dan dendeng kelinci serta pasta hainya merupakan komoditas komodits diminati di Hongkong dan Belanda (Widodo, 1992). Selain itu daging kelinci yang rendah kholesterol dan trigeliserida potensial ditawarkan pada kelompok masyarakat tertentu yang kurang menghendaki kholesterol dan trigeliserida/lemak (monoarfa, 2000). Secara fisikokimia, emulsi yang dibentuk daging kelinci dalam produk olahan daging, ternyata lebih baik dari daging sapi dna ayam (Whiting dan Jenkins, 1981). Dalam pembuatan sosis, nugget dan kornet diperlukan lemak untuk emulsifikasi. Untuk mempertahankan mutu daging kelinci dan atau ayam yang rendah lemak dan kholesterol, emulsi dapat meningkat untuk kesehatan. Dalam kegiatan ini dilakukan penelitian terhadap teknologi pembuatan berbagai produk olehan daging kelinci, ayam dan sapi menjadi sosis, nugget dengan aditif omega-3, bakso, dendeng, abon minyak dan tanpa minyak. Potensi dan kendala pemanfaatan daging kelinci di tingkat peternak dipelajari melalui survai pada sentra-sentra produksi kelinci.

    Sumber : Dari berbagai sumber

    Tinggalkan komentar

    Filed under PETERNAKAN