Category Archives: PERIKANAN

Teknik Budidaya Air Tawar

PAKAN INDUK

  1. Pakan Khusus untuk induk
  2. Kandungan Protein 35-40%
  3. Mengandung Asam Lemak Omega 3 dan Omega 6 yang cukup
  4. Mengandung Vitamin C dan E
  5. Pemberian Pakan 2% per hari
  6. Frekuensi Pemberian Pakan 2-3 kali per hari

 

LINGKUNGAN

  1. Wadah/Kolam/Bak harus Kokoh dan bersih serta aman bagi induk
  2. Kualitas Air sesuai dengan kebutuhan Induk: suhu 26-30, pH 6,5-8, DO >4, kedalaman 60-150 cm, kecerahan 25-35 cm

KESEHATAN INDUK

  1. Induk harus bebas penyakit dan parasit
  2. Induk harus tidak cacat
  3. Induk baru harus dikarantina terlebih dulu
  4. Induk sebaiknya di vaksinasi secara berkala

GENETIK INDUK

  1. Asal Induk harus jelas ( dilengkapi SKA)
  2. Jumlahnya memadai
  3. Hindari Inbreeding
  4. Rasio Induk Jantan dan Betina yang cukup
  5. Gunakan induk sebanyak mungkin saat pemijahan

PROSES PEMIJAHAN ALAMI

  1. Induk matang gonad, sehat dan tidak cacat
  2. Wadah dan sarana pemijahan harus bersih dan dikeringkan sebelumnya
  3. Air baru dan Mengalir
  4. Substrat penempel telur (bila perlu) harus bersih dan kering sebelumnya

 

PEMIJAHAN SUNTIK HORMON

  1. Penyuntikan hormon ovulasi/ovaprim sesuai dosis 0,2-0,5 ml/kg induk
  2. Frekuensi penyuntikan 1-2 kali
  3. Pengaruh hormon 8-12 jam setelah penyuntikan
  4. Selanjutnya Induk dipijahkan secara alami

 

PEMIJAHAN BUATAN

  1. Wadah harus bersih dan kering sebelumnya
  2. Induk jantan dan betina di tampung pada wadah terpisah
  3. Suntik Induk dengan hormon ovulasi/ovaprim sesuai dosis, frekuensi.
  4. Pengaruh hormon 8-12 jam, ciri induk siap striping perut mengembang dan bila diurut keluar telur.
  5. lanjutan
  6. Untuk pejantan yang tidak bisa di urut spermanya seperti ikan lele, harus di bedah
  7. Encerkan sperma menggunakan larutan NaCl fisiologis 0,9% sebanyak 50-100 ml
  8. Urut perut induk betina sampai telur keluar semua
  9. Campurkan sperma dan telur, diaduk dengan bulu ayam sampai rata, tambahkan air, diaduk lagi, buang airnya untuk menghilangkan sisa sperma.
  10. Tebar telur pada substrat atau hafa penetasan

 

PENETASAN TELUR DAN  PERAWATAN LARVA

  1. Telur di pindah ke wadah penetasan
  2. Wadah penetasan sebelumnya harus bersih dan kering.
  3. Air yang digunakan air baru dan di aerasi
  4. Belum di kasih makan selama kuning telurnya masih ada.
  5. Selanjutnya bisa di pindah ke kolam atau bak pendederan, atau tidak dipindah sampai umur aman untuk dipindah.

PEMELIHARAAN BENIH

  1. Persiapan Kolam/bak
  2. Waktu tebar dan kepadatan tebar
  3. Pakan yang diberikan
  4. Manajemen Kualitas Air

PERSIAPAN KOLAM

  1. Kolam dikeringkan dan di perbaiki kemalirnya
  2. Secara periodik tanah dasar kolam di balik
  3. Tebar kapur tohor 50 g/m2
  4. Tebar Pupuk kandang 500 g/m2
  5. Pasang hafa penyaring di inlet, lalu airi kolam
  6. Tambahkan probiotik
  7. Plangton tumbuh bagus setelah 5 hari dan kolam siap ditebari benih

WAKTU DAN KEPADATAN TEBAR

  1. Waktu tebar sebaiknya pagi atau sore hari
  2. Lakukan aklimatisasi saat tebar benih
  3. Benih yang ditebar usahakan yang seragam ukurannya
  4. Kepadatan benih sesuai dengan SNI
  5. Lama waktu pemeliharaan sesuai dengan Step pendederan (SNI)

PEMBERIAN PAKAN

  1. Disesuaikan dengan bukaan mulut
  2. Disesuaikan dengan karakter benih (herbivor atau carnivor)
  3. Frekuensi pemberian pakan 3-6 kali, untuk ikan kanibal harus sesering mungkin.
  4. Pakan yang diberikan 5-10% biomas/hari
  5. Protein pakan 30-40 %.

KUALITAS AIR PENDEDERAN

  1. Ketinggian air harus stabil, tambah bila menguap atau susut.
  2. Pertahankan kecerahan air 25-35 dengan menjaga populasi plankton.
  3. Ganti air 10-50 % bila kualitas air menurun.
  4. PENGEMASAN DAN DISTRIBUSI BENIH
  5. Pengangkutan Tertutup atau Terbuka
  6. Kepadatan aman sesuai jarak tempuh
  7. Harus dilengkapi surat keterangan ikan

PEMBESARAN

  1. Benih yang digunakan harus sehat dan unggul
  2. Persiapan kolam/bak
  3. Pemberian Pakan 3 – 5% biomas/hari
  4. Manajemen Kualitas Air

 SELAMAT MENCOBA…

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under PERIKANAN

Teknologi Mina Padi

PENDAHULUAN
Perspektif sistem usahatani padi-ikan dalam meningkatkan pendapatan petani adalah jika hasil padi telah mencapai tingkat maksimum sampai batas potensi genetik varietas dan days dukung lingkungan (carrying capacity), maka sasaran program intensifikasi adalah mempertahankan tingkat produktivitas padi dan meningkatkan pendapatan petani.
Rekayasa teknik tanam padi dengan cara tanam jajar legowo 2:1 atau4:l,berdasarkanhasil penelitian terbukti dapat meningkatkan produksi padi sebesar 12-22%. Disamping itu sistem legowo yang memberikan ruang yang luas (lorong) sangat cocok dikombinasikan dengan pemeliharaan ikan (minapadi legowo). Hasil ikan yang diperoleh mampu menutup sebagian biaya usahatani, sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani.
Teknologi legowo merupakan rekayasa teknik tanam dengan mengatur jarak tanam antar rumpun dan antar barisan sehingga terjadi pemadatan rumpun padi dalam barisan dan melebar jarak antar barisan sehingga seolah-olah rumpun padi berada dibarisan pinggir dari pertanaman yang memperoleh manfaat sebagai tanaman pinggir (border effect). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumpun padi yang berada di barisan pinggir hasilnya 1,5 – 2 kali lipat lebih tinggi dibandingkan produksi rumpun padi yang berada di bagian dalam.
KEUNTUNGAN
• Pada cara tanam jajar legowo 2:1, semua maupun tanaman seolah-olah berada pada barisan pinggir pematang, sedangkan pada cara tanam jajar legowo 4:1, separuh tanaman berada pada bagian pinggir (mendapat manfaat border effect).
• Jumlah rumpan padi meningkat sampai 33°/a/ha.
• Meningkatkan produktivitas padi 12-22%.
• Memudahkan pemeliharaan tanaman.
• Masa pemeliharaan ikan dapat lebih lama, yaitu70-75 hari. dibanding cara tandur jajar biasa yang hanya 45 hari.
• Hasil ikan yang diperoleh dapat menutupi sebagian biaya usaha tani.
• Dapat meningkatkan pendapatan usahatani antara 30-50%.
PAKET TEKNOLOGI
1. Benih padi
Benin padi yang digunakan adalah varietas unggul berlabel sesuai anjuran setempat dengan kebutuhan benih 25 kg/ha.
2. Persemaian
Persemaian seluas 5% luas lahan yang akan ditanami. Pemeliharaan persemaian seperti pada cara tanam padi biasa. Umur persemaian 25-30 hari.
3. Pengolahan tanah
Tanah diolah sempurna (2 kali bajak dan 2 kali garu), dengan kedalaman
olah 15-20 cm. Bersamaan dengan pengolahan tanah dilaksanakan perbaikan pintu pemasukan/ pengeluaran dan perbaikan pematang, jangan sampai ada yang bocor.
4. Pembuatan caren dan saringan
Pembuatan caren palang dan melintang pada saat pengolahan tanah terakhir, lebar 40 – 45 cm dengan kedalaman 25 – 30 cm. Pada titik persilangan dibuat kolam pengungsian ukuran 1×1 m dengan kedalaman 30 cm. Pada setiap pintu pemasukan dan pengeluaran air pada setiap petakan dipasang saringan kawat dan slat pengatur tinggi permukaan air menggunakan bambu.
5. Penanaman padi
Cara tanam adalah jajar legowo 2:1 atau 4:1. Pada jajar legowo 2:1, setiap dua barisan tanam terdapat lorong selebar 40 cm, jarak antar barisan 20 cm, tetapi jarak dalam barisan lebih rapat yaitu 10 cm. Pada jajar legowo 4:1. setiap empat barisan tanam terdapat lorong selebar 40 cm, jarak antar barisan 20 cm, jarak dalam barisan tengah 20 cm, tetapi jarak dalam barisan pinggir lebih rapat yaitu 10 cm.
Untuk mengatur jarak tanam digunakan caplak ukuran mata 20 cm. Pada jajar legowo 2:1 dicaplak satu arah saja, sedangkan pada jajar legowo 4:1 dicaplak kearah memanjang dan memotong.
6. Pengaturan air
Pengaturan air macak-macak 3-4 HST. Setelah 10-15 HST (sesudah penyiangan dm pemupukan susulan pertama) air dimasukkan mengikuti tinggi tanaman.
7. Pemupukan
Pupuk dasar diberikan secara disebar pada satu tanam padi dengan dosis 1/3 bagian Urea dan seluruh dosis SP-36. Pupuk susulan pertama diberikan pada umur 15 HST (sesudah penyiangan) dan pupuk susulan kedua pada umur 45 HST. Dosis pupuk sesuai anjuran setempat.
8. Penyiangan
Penyiangan dilakukan pada umur 10-15 HST (sebelum pemberian pupuk susulan pertama) dan selannjutnya tergantung keadaan gulma.
9. Pengendalian hama dan penyakit
Pengendalian hama penyakit dilakukan dengan sistem perantauan. Hindari penggunaaa pestisida.
10. Benih ikan dan penebaran
Jenis ikan yang dianjurkan adalah ikan yang berwarna gelap. Penebaran benih ikan dilakukan pada sore had secara perlahan-lahan agar ikan tidak mengalami sires akibat perubahan lingkungan. Ukuran benih yang dianjurkan 5-8 cm dengan kepadatan 5.000 ekor/ha.
11. Pemeliharaan ikan
Pemeliharaan ikan meliputi pemberian pakan tambahan, pengelolaan air dan pengawasan hams. Pakan tambahan berupa dedak halus 250 kg/ha diberikan secara disebar pada caren, pagi/sore hari. Lama pemeliharaan ikan 70-75 hari.
12. Panen
Panen ikan dilakukan 10 hari sebelum panen padi dengan cara mengeringkan petakan sawah, kemudian ikan ditangkap.
Sumber : Pustaka Litbang Deptan

BACA ARTIKEL YANG LAIN:
1. budidaya-buah-naga
2. budidaya-bayam
3. budidaya-pisang
4. budidaya-kedelai
5. cara-membuahkan-durian-diluar-musim

Tinggalkan komentar

Filed under PERIKANAN

Budidaya Ikan Gurame

I. SELEKSI INDUK
Ikan gurame sudah bisa dipijahkan pada umur 3 tahun dan pads umur 10 tahun produksi
telur akan mulai menurun.
A. Menentukan Jenis Kelamin
a.1. Kriteria ikan game betina
– Warna badan terang
– Perut membulat
– Badan relatif panjang
b.2. Kriteria ikan gurame jantan
– Warna badan gelap dan agak pucat
– Gerakan lincah
– Perut dekat anus
B. Perbedaan Induk Jantan dan Betina Jantan
– Di dahi terdapat tonjolan/cula
– Pangkal sirip dada bagian dalam
– Dagu warna kuning
– Bila diletakan di lantai pangkal ekor akan mengangkat
Betina
– Didahi tidak terdapat tonjolan/cula
– Pangkal sirip dada bagian dalam berwarna hitam
– Dagu berwarna keputih-putihan atau sedikit coklat
– Bila diletakan dilantai tidak ada reaksi
C. Ciri -ciri induk sudah matang gonad
– Perut membesar kearah belakang
– Anus akan nampak putih kemerahan
– Jika perut diraba akan terasa lembek
II. KONSTRUKSI KOLAM
– Luas kolam 200 – 300 m persegi
– Kedalaman kolam 1 – 1,5 m
– Kedalaman air 0,7 – 1,0 m
– Pada saluran pemasukan dipasang saringan kasa plastik
– Pada pintu pengeluaran dibuat monik
III. PERSIAPAN KOLAM PEMIJAHAN
– Pengeringan dasar kolam
– Pembersihan dan perbaikan pematang
– Kolam diisi air
– Pemasangan tempat membuat sarang (sosog) dan menyediakan bahan pembuat sarang
IV. PROSES PEMIJAHAN
– Pemasukan induk yang sudah lolos seleksi
– Perbandingan jantan dan betina adalah 1:3
– Setelah seminggu induk jantan akan membuat sarang
– Pada hari ke-15 induk akan memijah
Ciri -ciri sarang berisi telur
– Sarang atau sosog sudah tertutup penuh oleh injuk
– Sarang akan ditunggui oleh induk betina
V. PENANGANAN TELUR
Pengambilan telur, Alat :
– Ember yang berisi air
– Scope net
Caranya :
– Sarang yang berisi telur diambil dan disimpan pada ember yang berisi air
– Bila ada yang tercecer di kolam telur diambil dengan menggunakan scope net
– Bawa telur ke ruang penetasan
– Keluarkan telur dari sarangnya sedikit demi sedikit. Telur yang terlepas diambil dan
masukkan kedalam ember berisi air yang telah disediakan sebelumnya
– Bila masih ada telur yang menempel, kibas-kibaskan bagian injuk tersebut dengan
hati-hati maka telur akan terlepas
– Kemudian telur dicuci dengan air bersih sebanyak 3 kali
– Pada saat mencuci tambahkan Mb atau Mg untuk mencegah terhadap serangan hama
penyakit.
– Telur yang sudah dicuci lalu dimasukan kedalam bak penetasan yang telah dipasang
serasi dan hitter
IV. PEMELIHARAAN DAN PENETASAN
– Air dalam bak penetasan harus bersih Kedalaman air 20 cm
– Telur yang tidak dibuahi atau tidak menetas harus dibuang
– Telur akan menetas setelah 2 – 3 hari dengan suhu 27 -28 0C
– Larva berada pada bak penetasan selama selama 10 hari
– Setelah itu dipindahkan kedalam bak pendederan 1
VII. PERSIAPAN BAK PENDEDERAN I
Bak pendederan dengan ukuran 2,5 m x 4,5 m isi larva 2000 ekor, dan bak pendederan
dipersiapkan 2 – 3 hari sebelum ditanami larva.
a. Tahap-tahap persiapan bak pendederan I
– Bak dibersihan dan dikeringkan
– Pemupukan dengan pupuk kandang
– Pengapuran
– Pemasukan air dan diendapkan selama 1 hari
– Penanaman benih dapnia- Pemasangan aerator
b. Penanaman benih atau larva
– Penanaman benih benih dilakukan setelah persiapan selesai .
– Selama di bak pendederan benih hanya diberi pakan alami berupa dapnia
– Benih berada dalam bale pendederan sampai 14 hari dari penanaman
VIII PEMELIHARAAN BENIH
Dalam pemeliharaan benih ada beberapa hal yang harus diperhatikan:
– Mengamati keadaan air
– Penambahan pupuk kandang
IX. PEMANENAN BEN[H PADA BAK P ENDEDERAN I
Pemanenan di lakukan pads pagi hari antara jam 07 – 09.00 dengan menggunakan alat
sebagai berikut:
– Wadah berisi air dan beraerasi
– Scope net
Caranya :
– Air dikeluarkan sedikit demi sedikit
– Penangkapan benih dilakukan dengan scope net
– Simpan benih hasil tangkapan pada wadah yang beraerasi, pads pemanenan air jangan
sampai keruh dan saluran pengeluaran dipasang saringan, dan setelah selesai bak
dibersihkan dan disiapkan untuk pendederan berikutnya.
Sumber : Durachman, Drs., Ir., MM.
Teknik Budidaya lkan Gurame.
Sub. Dinas Perikanan Dinas Pertanian Kabupaten Kuningan. 2001

Tinggalkan komentar

Filed under PERIKANAN

Budidaya Ikan Mas

A. PENDAHULUAN
Perkembangan budidaya ikan mas mengalami kemajuan yang sangat pesat. Malah boleh dikatakan ikan mas-lah yang mempunyai tingkat pembudidayaan yang hampir sempurna.
Seperti kebiasaan ikan-ikan yang tergolong keluarga Cyprinidae, ikan mas sama sekali tidak mempunyai naluri untuk merawat atau melindungi keturunannya. Oleh karena itu segala sesuatu yang berhubungan dengan dengan perkembangbiakannya menjadi tanggung jawab kita sebagai pemilik sekaligus pengusahanya.
B. PERSIAPAN KOLAM
Sebelum dilakukan pemijahan, biasanya kolam dikeringkan dan dijemur selama 2-3 hari. Ini jika panas terik namun jika matahari sering tertutup awan jumlah hari penjemuran kolam harus ditambah hingga 5-7 hari.
Setelah kolam dijemur, air kemudian dimasukan ke dalam kolam dengan terlebih dahulu melewati saringan yang dipasang pada pintu pemasukan. Pintu pengeluaran diatur sedemikian rupa sehingga tinggi air konstan 75 cm di pintu pengeluaran air. Kemudian kakaban dipasang diatas sebatang bambu yang utuh agar dapat terapung. Panjang kakaban 1,5 – 2 meter yang dijepit dan dipaku pada bilah bambu.
C. PEMILIHAN INDUK
1. Ciri – ciri induk yang siap dipijahkan :
a. Pada induk betina umur antara 1,5-2 tahun dengan berat 2 Kg/ekor, dan pada induk jantan umur minimal 0,8 tahun dengan berat 0,5 Kg/ekor.
b. Bentuk tubuh normal.
c. Tutup insang normal, lensa mata jernih
d. Sisik tersusun rapih dan cerah.
2. Ciri – ciri untuk membedakan induk jantan dan beina sebagai berikut:
a. Betina :
– Perut besar buncit dan lembek.
– Gerakan lambat, pada malam hari biasanya loncat-loncat.
– Jika perut di striping/urut mengeluarkan cairan berwarna kuning.
b. Jantan :
– Badan langsing.
– Gerakan lincah, dan gesit.
– Jika perut di striping mengeluarkan cairan berwarna putih.
D. SISTEM PEMIJAHAN
Ada dua sistem pemijahan yaitu :
1. Sistem pemijahan tradisional
Kolam yang sudah dikeringkan di isi air pada pagi hari kemudian langsung diberi kakaban dan pada sore harinya Induk dimasukan. Setelah proses pemijahan selesai injuk/kakaban dipindahkan ke kolam penetasan.
2. Sistem kawin suntik :
Pada sistem ini induk jantan maupun betina yang matang telur di rangsang untuk memijah, dengan melakukan penyuntikan ekstrak kelenjar Hipofisa, kelenjar hipopisa diperoleh dari kepala ikan jantan. Penyuntikan dilakukan dua kali dalam tempo 6 jam, setelah itu induk akan terangsang untuk melakukan pemijahan.
Penyuntikan dengan kelenjar Hipofisa dilakukan dalam berbagai tahapan kegiatan, yaitu :
o Timbang induk betina yang akan dipijahkan.
o Timbang ikan donor sesuai dengan dosis. Sebagai contoh, jika berat induk betina 5 Kg (2 ekor), dengan dosis penyuntikan 2 dosis, maka ikan donor yang harus disiapkan adalah sebanyak 10 Kg.
o Potong ikan donor secara vertikal pada bagian belakang tutup insang.
o Letakan potongan kepala ikan donor dengan posisi mulut ke atas, lalu potong lagi secara vertikal di atas mata di bawah hidung. Otak akan terlihat diselimuti lender atau lemak.
o Angkat otak ikan dan buang lendirnya dengan kapas atau tisu. Setelah bersih akan tampak butiran putih seperti beras dalam lekukan tulang, itulah kelenjar hipofisa.
o Ambilah kelenjar hipofisa dengan pinset, lalu letakan pada alu penggerus. Lalukan berulang-ulang hingga kelenjar hipofisa dari setiap ikan donor habis. Setelah itu, hancurkan hipofisa dalam gelas penggerus sampai halus.
o Masukan 1-1,5 ml aquabides ke dalam gelas penggerus dan aduk hingga merata. Agar lebih larut, putar dengan sentrifugal.
o Sedot larutan hipofisa dengan alat suntik bervolume 2 ml.
o Suntikan larutan hipofisa pada punggung induk betina atau pada bagian daging yang paling tebal sedalam 2 cm dengan kemiringan 45 derajat.
o Masukan induk yang sudah disuntik ke dalam bak dan biarkan selama 10-12 jam.
Daftar Pustaka :
1. Heru Susanto. Budidaya Ikan Di Pekarangan. Penebar Swadaya. 1995.
2. http://www.ristek.go.id

Tinggalkan komentar

Filed under PERIKANAN