Category Archives: PERTANIAN

Fungsi Zn Pada Padi

Seng atau Zinc (Zn) adalah hara utama penting yang dibutuhkan tanaman untuk beberapa proses biokimia dalam tanaman padi, termasuk produksi klorofil dan integritas membran. Oleh karenanya kahat Zn mempengaruhi warna dan turgor tanaman. Zn hanya sedikit mobil dalam tanaman dan sangat mobil di dalam tanah.

Zn membatasi pertumbuhan tanaman, suplai Zn tanah rendah atau kondisi tanah buruk (misalnya, selalu kebanjiran) menghalangi serapan Zn oleh tanaman. Pada kasus tertentu, Zn perlu diberikan sesuai kebutuhan. Hara lainnya perlu diberikan dalam jumlah seimbang untuk menjamin respon tanaman yang baik terhadap pupuk Zn dan pencapaian pertumbuhan tanaman yang sehat dan produktif.

Pengelolaan Zn

• Gejala kahat Zn. Tanaman kerdil dan bercak coklat berdebu pada bagian atas daun; spot-spot tanaman yang tumbuh jelek; gejala terlihat 2-4 minggu setelah tanam pindah; kehampaan gabah tinggi; pematangan terlambat dan hasil rendah; gejala kahat Zn menyerupai kahat S dan Fe pada tanah alkalin dan keracunan Fe tanah organik berdrainase buruk.

• Terjadinya kahat Zn. Kahat Zn tidak sering dijumpai, namun dapat terjadi pada tanah kalkareous dan netral; pertanaman intensif; tanah sawah yang selalu kebanjiran atau berdrainase buruk; tanah salin dan sodik; tanah gambut, tanah dengan P dan silikat ( Si) tersedia tinggi; tanah berpasir; tanah dengan pelapukan tinggi, asam, dan bertekstur kasar; tanah yang terbentuk dari serpentin dan laterik; dan tercuci, tanah sulfat masam tua dengan konsentarsi K, Mg, dan Ca rendah.

• Aplikasi Zn. Bila kahat Zn nampak di lapang, berikan 10-25 kg ZnSO4.H2O atau 20-40 ZnSO4.7H2O per ha pada permukaan tanah, atau celupkan akar bibit padi dalam 2-4% larutan ZnO sebelum transplanting (20-40 g ZnO/lt air). Tanaman dapat pulih dari kahat Zn bila sawah didrainasi – kondisi kering meningkatkan ketersediaan Zn. Tanaman hanya memerlukan sekitar 0,05 kg Zn/ha (jerami+gabah) per ton hasil gabah, namun lebih banyak pupuk Zn harus diberikan karena begitu diberikan Zn tidak selalu tersedia bagi tanaman.

• Waktu aplikasi Zn. Berikan pupuk Zn pada permukaan tanah setelah pelumpuran terakhir dan perataan lahan atau

Iklan

1 Komentar

Filed under PERTANIAN

Proses Produksi Benih Bersertifikat

  1. PEMBIBITAN

Untuk memproduksi benih bermutu, pesemaian dilakukan pada areal khusus, agar terhindar dari campuran tanaman varietas lain.

  1. AREAL PERTANAMAN

Harus diperiksa sejarah lapangannya terlebih dahulu, agar tidak terjadi percampuran dengan tanaman / varietas lain sebelumnya.

  1. PERTANAMAN

Selama pertanaman di lapangan dilakukan 3 (tiga) kali seleksi untuk membuang Campuran Varietas Lain (CVL) yang dilakukan pada saat

  1. Fase Vegetatif
  2. Fase Berbunga
  3. Fase Menjelang Panen
  • PERALATAN (PANEN & PROSESING)
  • Untuk menjaga kemurnian benih semua peralatan panen dan prosesing harus diperiksa dan dibersihkan terlebih dahulu.

    1. PENGOLAHAN BENIH
      1. Perontokan / Pengupasan / Pemipilan
      2. Pembersihan kotoran
      3. Pengangkutan ke gudang
      4. Penimbangan berat & checking awal
      5. Pengeringan kadar air ± 11-13 %
      6. Pembersihan kembali
    2. PENGUJIAN LABORATORIUM

    Meliputi Mutu Genetis, Fisiologis, Fisik.

    1. PELABELAN

    Label dikeluarkan oleh BPSB, sesuai dengan kelas benihnya :

    • Kelas BD Warna Putih
    • Kelas BP Warna Ungu
    • Kelas BR Warna Biru

    Umur Label

    • Padi                          : 6 (Enam) Bulan
    • Palawija                   : 3 (Tiga ) Bulan
    • Bila masa berlaku label sudah habis, benih dapat diuji ulang.

    Catatan :

    Proses sertifikasi 1 s/d 7 dilaksanakan oleh BPSB

     

    Tinggalkan komentar

    Filed under PERTANIAN

    Cara Menggunakan BWD

     

     

    Agar efektif dan efisien , penggunaan pupuk disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan ketersediaan hara dalam tanah . Kebutuhan N tanaman dapat diketahui dengan cara mengukur tingkat kehijauan warna daun padi menggunakan bagan warna daun (BWD) .Cara menentukan waktu aplikasi pupuk N dengan menggunakan BWD dapat dilakukan dengan 2 cara :

     

    1. A.   Cara penggunaan BWD waktu tetap (fixed time)

    Waktu pemupukan ditetapkan lebih dahulu berdasarkan tahap pertumbuhan tanaman,antara lain fase pada saat anakan aktif dan pembentukan malai atau saat primordia. Pembacaan BWD hanya dilakukan menjelang pemupukan kedua (tahap anakan aktif, 23-28 HST) dan pemupukan ketiga (tahap primordia, 38-42 HST). Jika nilai pembacaan BWD berada di bawah nilai kritis (< 4,0). Maka dosis pupuk N yang diberikan dinaikkan 25 % dari jumlah yang sudah ditetapkan.Jika hasil pembacaan BWD di atas nilai kritis (> 4,0), maka dosis pupuk N yang diberikan dikurangi sekitar 25% dari jumlah yang ditetapkan

    a.Target hasil 6 ton/ ha (rendah)

    Pemupukan dasar

    < 14 HST

    Pemupukan susulan I:

    23-28 HST

    1

    Pemupukan susulan II:

    38-42 HST

    BWD

    Kg Urea/ha

    BWD

    Kg Urea/ha

    0-20 kg N / ha

    > 4

    50

    > 4

    75

    = 4

    75

    = 4

    100

    < 4

    100

    < 4

    125

    b.Target hasil 7 ton/ ha (tinggi)

    Pemupukan dasar

    < 14 HST

    Pemupukan susulan I:

    23-28 HST

    Pemupukan susulan II:

    38-42 HST

    BWD

    Kg Urea/ha

    BWD

    Kg Urea/

    ha

    30 kg N / ha

    > 4

    75

    > 4

    100

    = 4

    100

    = 4

    125

    < 4

    125

    < 4

    150

    1.  
    1. B.   Cara penggunaan BWD waktu sebenarnya (real time)
    • Sebelum berumur 14 hari setelah tanam pindah (HST) , tanaman padi diberi pupuk dasar N dengan takaran 50-70 kg per hektar. Pada saat ini BWD belum diperlukan.
      • Pengukuran tingkat kehijauan daun padi dengan BWD dimulai pada saat tanaman berumur 25-28 HST. Pengukuran dilanjutkan setiap 7-10 hari sekali sampai umur tanaman  dalam kondisi bunting atau fase primordial. Khusus untuk padi hibrida dan padi tipe baru, pengukuran tingkat kehijauan daun tanaman dilakukan sampai tanaman sudah berbunga 10 %.
      • Pilih secara acak 10 rumpun tanaman sehat pada hamparan yang seragam, lalu pilih daun teratas yang telah membuka penuh pada satu rumpun.
      • Taruh bagian tengah daun di atas BWD, lalu bandingkan warna daun tersebut dengan skala warna pada BWD. Jika warna daun berada diantara dua skala warna di BWD, maka gunakan nilai rata-rata kedua skala tersebut.
      • Pada saat ppengukuran daun tanaman dengan BWD, petugas tidak boleh menghadap sinar matahari, karena dapat mempengaruhi nilai pengukuran.
      • Bila memungkinkan, setiap pengukuran dilakukan pada waktu dan oleh orang yang sama, supaya nilai pengukuran lebih akurat.
      • Jika lebih 5 dari 10 daun yang diamati warnanya dalam batas kritis atau dengan nilai rata-rata kurang dari 4,0 maka tanaman perlu segera diberi pupuk N dengan dosis sebagai berikut.
      • 50-70 kg urea per hektar pada musim hasil rendah.
      • 75-100 kg urea per hektar pada musim hasil tinggi.
      • 100 kg urea per hektar pada padi hibrida dan tipe baru, baik pada musim hasil rendah maupun musim hasil tinggi.
      • Apabila nilai warna daun padi hibrida dan tipe baru pada saat tanaman dalam kondisi keluar malai dan 10 % berbunga berada pada skala 4 atau kurang, maka tanaman perlu diberi tambahan pupuk  N (bonus) dengan dosis 50 kg urea per hektar.

       RekomendasiPermentan No.04/OT.140/4/2007

      • Urea  250-350 kg/ha
      • SP36    50-100  kg/ha
      • Kcl     50-100 kg/ha Atau
      • Phonska   300-400 kg/ha
      • Urea          150-250 kg/ha
      • Apabila digunakan pupuk kandang ( organik ) 2 ton/ha :
      • Urea   : bisa dikurangi 25 kg/ha
      • SP36  : bisa dikurangi 50 kg/ha

      KCl      : bisa dikurangi 20 kg/ha

    Tinggalkan komentar

    Filed under PERTANIAN

    Fungsi Pengairan Macak-Macak Padi Sawah

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan air untuk padi sawah sebanyak 0,74 –1,2 l/dtk/ha, atau 6,39 – 10,37 mm/hari/ha. Kebutuhan  air terbanyak  pada  saat  penyiapan lahan sampai tanam dan memasuki fase bunting sampai pengisian bulir padi. Kebutuhan air untuk pengolahan tanah sampai siap tanam (30 hari) mengkonsumsi air 20% dari total kebutuhan air untuk padi sawah dan fase bunting sampai pengisian bulir (15 hari) mengonsumsi air sebanyak 35 %. Berdasar data tersebut sebetulnya sejak tanam sampai memasuki fase bunting tidak membutuhkan air banyak, demikian pula setelah pengisian bulir. Oleh karenanya 15 hari sebelum panen, padi tidak roboh dan ditinjau dari aspek pemberian air memang tidak perlu lagi. Pengefisienan penggunaan air di petakan dapat dilakukan dengan mengairi sawah dalam keadaan macak-macak. Setelah tanaman padi berumur 14 hari sampai periode bunting tidak memerlukan air yang banyak. Kebiasaan petani menggenangi sawahnya sampai 5 cm bahkan lebih karena petani tidak membayar air yang digunakan tersebut, sehingga cenderung bermewah-mewah dengan air. Berdasar hasil penelitian menggunakan air pada padi sawah menunjukkan bahwa sawah yang digenangi setinggi 5 cm sejak tanam sampai bunting tidak memberikan perbedaan hasil gabah dengan sawah yang diairi macak-macak. Hanya biasanya sawah yang diairi macak-macak populasi gulma lebih banyak terutama rumput-rumput berdaun sempit. Dengan irigasi macak-macak sampai periode bunting, maka air dapat dihemat penggunaannya, Tabel 1.

      Tabel 1. Hasil gabah dan konsumsi air pada berbagai pengairan

    Pola Pengairan

    Hasil gabah (t/ha) Konsumsi air (m3)

    MH

    MK

    MH

    MK

    Digenang terus

    7,21

    4,40

    6758

    7358

    Digenang (7-35)-macak macakn(36-50)-digenang (50-85)

    7,09

    4,44

    5966

    6536

    Digenang (7-50)-macak macak (50-85)

    6,92

    4,54

    5853

    6375

    Digenang (7-35)-macak macak (36-85)

    6,38

    4,52

    4025

    4903

    Macak-macak terus menerus

    6,99

    4,46

    2457

    4355

    Sumber : Didiek Setiobudi, 1987

    Keterangan

    Nilai hasil gabah dan konsumsi air merupakan rata-rata dari varietas IR 36, IR 52, IR 54 dan Bogowonto.

    Berdasarkan tabel diatas, irigasi macak-macak mampu menghemat air sebanyak 41% dan 49% masing-masing pada musim kemarau dan penghujan. Di samping itu pematang sering-sering ditambal dengan lumpur agar air tidak hilang melalui retakan-retakan pematang. Dengan demikian bila pematang selalu dalam keadaan rapat, maka kehilangan air dapat dicegah. Dengan petakan irigasi sebelah menyebelah juga salah satu cara mengurangi kehilangan air. Pengairan padi sawah dengan sistem bergilir dapat dilakukan, terutama pada musim kemarau. Hal ini mengingat suplai air dari sungai-sungai semakin menipis, hujan pun semakin sedikit padahal luas tanaman padi gadu tetap sama dengan luas tanaman padi rendeng. Bila debit air yang keluar dari bendung atau waduk < 40% dari debit normal, maka dapat dilakukan irigasi gilir giring. Sedangkan bila debit air >60% dari debit normal, maka gilir glontor dapat disarankan untuk sistem pengairannya. Irigasi gilir giring ataupun gilir glontor pada prinsipnya sama, yaitu bergilir dengan interval waktu tertentu dalam suatu blok sawah, hanya yang membedakan adalah volume air yang disalurkan ke blok tersebut. Untuk padi sawah, irigasi dengan interval waktu 7 – 10 hari tidak menunjukkan perbedaan hasil padi dibanding tanpa digilir. Efisiensi penggunaan air tidak hanya untuk tanaman padi, namun juga untuk tanaman palawija. Pada daerah tadah hujan, pengefisienan penggunaan air penting sekali, mengingat daerah tersebut tidak mempunyai air irigasi. Pada daerah ini penanaman padi dua kali membawa resiko yang besar, terutama kekurangan air pada saat tanaman membutuhkan air banyak (periode bunting samapai pengisian bulir), yang dapat berakibat terjadinya perununan hasil padi secara dastis. Untuk itu biasanya petani menanam palawija yang tidak membutuhkan air banyak. Kebanyakan palawija baik itu kacang tanah, kedelai, kacang hijau ataupun jagung hanya mengkonsumsi air sebanyak 0,25 – 0,30 dari padi sawah, tergantung umur tanamannya.

    Tinggalkan komentar

    Filed under PERTANIAN

    Cara Membuat Pupuk Organik Cair

    Pupuk organik cair adalah pupuk yang kandungan bahan kimianya    maksimal 5% , karena itu  kandungan    NPK pupuk organik cair relatif rendah  . Jika ada pupuk organik yang kandungan NPK  10 -10 -10. Dapat dipastikan pupuk tersebut palsu. Pupuk organik cair memeliki beberapa keuntungan. Pertama, pupuk tersebut mengandung zat tertentu seperti mikroorganisme yang jarang terdapat dalam pupuk organik padat . Dalam bentuk kerting, beberapa mikroorganisme mati dan zat tidak bisa aktif. Jika dicampur dengan pupuk organik padat, pupuk organik air dapat mengaktifkan unsur hara yang ada dalam pupuk organik padat.

    t  Pembuatan  Pupuk Cair Organik yang sederhana dan murah

    –       Bahan bahan yang digunakan:

    a)       Sampah organik basah……………………………………………………..12,5 kg

    b)      Cairan molase…………………………………………………………………500 ml

    c)       Air leri(air cucian beras pertama)………………………………………1L

    d)      Air kelapa yang telah tua………………………………………………….1L

    e)       Air bersih (sumur)…………………………………………………………..7L

     

    –       Alat alat

    a)    Ember plastik ukuran  20 liter yang ada tutupnya

    b)   Karung beras yang terbuat dari sintetis

    c)    Tongkat kayu panjang 50 cm

    d)   Sarung tangan karet atau plastik

    e)    Masker kain

    f)     Tali rafia

    g)    Beban

     

    –       Langkah kerja

    1. Masukkan sampah organik kedalam karung beras dan tekan sampai padat
    2. Ikat karung beras tersebut  dengan tali rafia
    3. Buat larutan media dengan menyampurkan semua bahan selain sampah organik.
    4. Masukkan karung beras berisi sampah organik kedalam larutan media sampai bahan organik terendam seluruhnya.
    5. Letakkan beban di atas karung supaya tidak mengapung.
    6. Tutup ember dengan rapat sehingga udara tidak masuk kedalam ember.
    7. Letekkan/ simpan ditempat teduh
    8. Simpan selama 7-10 hari
    9. Angkat karung yang berisi sampah organik dan pisahkan.

     

    t  Aplikasi pupuk cair

    Pupuk cair  organik bisa langsung digunakan dengan disiramkan ketanah atau disemprotkan ke daun tanaman. Kedua cara pengaplikasian tersebut juga bisa dilakukan secara bersamaan. Pupuk ini buisa diaplikasikan ke berbagai jenis tanaman sayuran, tanaman buah dan tanaman hias

    Sebagai pupuk daun, pupuk cair organik  dismprotkan langsung ketanaman. Supaya lebih efektif , penyemprotan dilakukan ketika matahari sudah terbit agar zat hara yang terkandung dalam pupuk tersebut dapat langsung dipakai oleh tanaman dalam proses fotositesis.

    Dosis ysng digunakan untuk aplikasi penyemprotan yaitu 100;1 atau 500ml air biasa dicampur dengan 5 ml pupuk organik. Pada musim hujan, penyemprotan dilakukan 1kali perminggu, sedangkan saat musim kemarau bisa dilakukan 3 hari sekali

    Sebagai pupuk akar pemupukkan dengan pupuk cair dilakukan dengan menyiram media tumbuh akar menggunakan campuran dengan perbandingan 500:1 atau  5 L air biasa dicampur dengsn 10 ml pupuk cair organik, Saat musim kemarau, pemupukan dilakukan 3 kali seminggu, sedangkan saat musim hujan sebanyak satu kali swemiggu, jumlah larutan pupuk organik yang disiramkan secukupnya sampai media tumbuh tanaman lembab. Pemakian pupuk bisa langsung disiramkan atau disemprotkan ke tanah di sekitar akar tanaman.

    Tinggalkan komentar

    Filed under PERTANIAN

    Trichoderma SP

    Trichoderma, mungkin belum banyak orang yang mengetahui apa itu trichoderma dan manfaatnya bagi pertanian. Trichoderma SP merupakan agensia hayati berupa jamur tular tanah dalam satu kemasan. Terdiri atas dua jenis jamur yaitu Jamur Trichoderma Harzianum dan Trichoderma Pseudokoningii yang mempunyai fungsi sebagai pengurai dan perangsang pertumbuhan tanaman serta mengendalikan penyakit pada tanaman. Penggunaannya pada budidaya tanaman diberikan pada awal penyiapan lahan atau dapat pula diberikan pada waktu pemberian pupuk dasar. Manfaat penggunaan Trichoderma antara lain yaitu untuk perbaikan struktur tanah, penambahan unsur hara pada tanah, sebagai organisme pengurai dalam tanah, dapat memacu pertumbuhan tanaman dan mengendalikan berbagai penyakit pada tanaman antara lain yaitu (busuk batang, busuk buah dan layu batang).

    Penggunaan Trichoderma yaitu dengan cara mencampurkan 2.5 kg Trichoderma dengan 15 Lt air yang sudah ditambahkan dengan 3 sendok gula dan 1 buah jipang yang sudah dihaluskan. Setelah itu, larutan Trichoderma disemprotkan pada 1 ton pupuk organik yang sudah matang. Komposisi pupuk organik waktu itu adalah limbah pertanian berupa sisa  tanaman jagung, kacang merah dan pupuk kandang (domba) yang dihasilkan dari kandang sendiri dan dikumpulkan disekitar lahan pertanian. Setelah Trichoderma dan pupuk tercampur rata, kemudian ditutup dengan plastik atau terpal agar terlindung dari panas dan hujan, biarkan selama 3 hari atau lebih untuk kemudian siap dipakai di lahan. Yang perlu diperhatikan dalam pembuatan pupuk organik ini yaitu bahwa Tricho merupakan makhluk hidup, jadi dalam pembuatannya tidak boleh tercampur dengan zat kimia yang bersifat racun bagi agensia hayati diantaranya yaitu pestida atau fungisida  kimia. Pada waktu penggunaannya di lahan pertanian, apabila belum bisa beralih ke pertanian organik secara total maka pemberian pupuk buatan  setelah 3 minggu pemberian pupuk dengan penambahan Trichoderma, sehingga Trichoderma lebih efektif dalam mengendalikan penyakit pada tanaman.

    Tinggalkan komentar

    Filed under PERTANIAN

    Budidaya Ubi Kayu (Singkong)

    1. SEJARAH SINGKAT

    Ketela pohon atau singkong merupakan tanaman pangan berupa perdu dengan nama lain ubi kayu, singkong atau kasape. Ketela pohon berasal dari benua Amerika, tepatnya dari negara Brazil. Penyebarannya hampir ke seluruh dunia, antara lain: Afrika, Madagaskar, India, Tiongkok. Ketela pohon berkembang di negara-negara yang terkenal wilayah pertaniannya dan masuk ke Indonesia pada tahun 1852.

    2. JENIS TANAMAN

    Klasifikasi tanaman ketela pohon adalah sebagai berikut:
    Kingdom : Plantae atau tumbuh-tumbuhan
    Divisi : Spermatophyta atau tumbuhan berbiji
    Sub divisi : Angiospermae atau berbiji tertutup
    Kelas : Dicotyledoneae atau biji berkeping dua
    Ordo : Euphorbiales
    Famili : Euphorbiaceae
    Genus : Manihot
    Spesies : Manihot utilissima Pohl.; Manihot esculenta Crantz sin.

    Varietas-varietas ketela pohon unggul yang biasa ditanam, antara lain: Valenca, Mangi, Betawi, Basiorao, Bogor, SPP, Muara, Mentega, Andira 1, Gading, Andira 2, Malang 1, Malang 2, dan Andira 4

    3. MANFAAT TANAMAN

    Di Indonesia, ketela pohon menjadi makanan bahan pangan pokok setelah beras dan jagung. Manfaat daun ketela pohon sebagai bahan sayuran memiliki protein cukup tinggi, atau untuk keperluan yang lain seperti bahan obat-obatan. Kayunya bisa digunakan sebagai pagar kebun atau di desa-desa sering digunakan sebagai kayu bakar untuk memasak. Dengan perkembangan teknologi, ketela pohon dijadikan bahan dasar pada industri makanan dan bahan baku industri pakan. Selain itu digunakan pula pada industri obat-obatan.

    4. SENTRA PENANAMAN

    Di dunia ketela pohon merupakan komoditi perdagangan yang potensial. Negara-negara sentra ketela pohon adalah Thailand dan Suriname. Sedangkan sentra utama ketela pohon di Indonesia di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

    5. SYARAT PERTUMBUHAN

    5.1. Iklim
    a. Curah hujan yang sesuai untuk tanaman ketela pohon antara 1.500-2.500 mm/tahun.
    b. Suhu udara minimal bagi tumbuhnya ketela kohon sekitar 10 derajat C. Bila suhunya di bawah 10 derajat C menyebabkan pertumbuhan tanaman sedikit terhambat, menjadi kerdil karena pertumbuhan bunga yang kurang sempurna.
    c. Kelembaban udara optimal untuk tanaman ketela pohon antara 60-65%.
    d. Sinar matahari yang dibutuhkan bagi tanaman ketela pohon sekitar 10 jam/hari terutama untuk kesuburan daun dan perkembangan umbinya.

    5.2. Media Tanam
    a. Tanah yang paling sesuai untuk ketela pohon adalah tanah yang berstruktur remah, gembur, tidak terlalu liat dan tidak terlalu poros serta kaya bahan organik. Tanah dengan struktur remah mempunyai tata udara yang baik, unsur hara lebih mudah tersedia dan mudah diolah. Untuk pertumbuhan tanaman ketela pohon yang lebih baik, tanah harus subur dan kaya bahan organik baik unsur makro maupun mikronya.
    b. Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman ketela pohon adalah jenis aluvial latosol, podsolik merah kuning, mediteran, grumosol dan andosol.
    c. Derajat keasaman (pH) tanah yang sesuai untuk budidaya ketela pohon berkisar antara 4,5-8,0 dengan pH ideal 5,8. Pada umumnya tanah di Indonesia ber-pH rendah (asam), yaitu berkisar 4,0-5,5, sehingga seringkali dikatakan cukup netral bagi suburnya tanaman ketela pohon.

    5.3. Ketinggian Tempat
    Ketinggian tempat yang baik dan ideal untuk tanaman ketela pohon antara 10–700 m dpl, sedangkan toleransinya antara 10–1.500 m dpl. Jenis ketela pohon tertentu dapat ditanam pada ketinggian tempat tertentu untuk dapat tumbuh optimal.

    6. PEDOMAN BUDIDAYA

    6. 1. Pembibitan

    1. Persyaratan Bibit
    Bibit yang baik untuk bertanam ketela pohon harus memenuhi syarat sebagai berikut:
    a. Ketela pohon berasal dari tanaman induk yang cukup tua (10-12 bulan).
    b. Ketela pohon harus dengan pertumbuhannya yang normal dan sehat serta seragam.
    c. Batangnya telah berkayu dan berdiameter + 2,5 cm lurus.
    d. Belum tumbuh tunas-tunas baru.

    2. Penyiapan Bibit
    Penyiapan bibit ketela pohon meliputi hal-hal sebagai berikut:
    a. Bibit berupa stek batang.
    b. Sebagai stek pilih batang bagian bawah sampai tengah.
    c. Setelah stek terpilih kemudian diikat, masing-masing ikatan berjumlah antara 25–30 batang stek.
    d. Semua ikatan stek yang dibutuhkan, kemudian diangkut ke lokasi penanaman.

    6.2. Pengolahan Media Tanam
    1. Persiapan
    Kegiatan yang perlu dilakukan sebelum pengolahan lahan adalah:
    a. Pengukuran pH tanah dilakukan dengan menggunakan kertas lakmus, pH meter dan cairan pH tester.
    b. Penganalisaan jenis tanah pada contoh atau sempel tanah yang akan ditanami untuk mengetahui ketersediaan unsur hara, kandungan bahan organik.
    c. Penetapan jadwal/waktu tanam berkaitan erat dengan saat panen. Hal ini perlu diperhitungkan dengan asumsi waktu tanam bersamaan dengan tanamanlainnya (tumpang sari), sehingga sekaligus dapat memproduksi beberapa variasi tanaman yang sejenis.
    d. Luas areal penanaman disesuaikan dengan modal dan kebutuhan setiap petani ketela pohon. Pengaturan volume produksi penting juga diperhitungkan karena berkaitan erat dengan perkiraan harga pada saat panen dan pasar. Apabila pada saat panen nantinya harga akan anjlok karena di daerah sentra penanaman terjadi panen raya maka volume produksi diatur seminimal mungkin.

    2. Pembukaan dan Pembersihan Lahan
    Pembukaan lahan pada intinya merupakan pembersihan lahan dari segala macam gulma (tumbuhan pengganggu) dan akar-akar pertanaman sebelumnya. Tujuan pembersihan lahan untuk memudahkan perakaran tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan inang bagi hama dan penyakit yang mungkin ada. Pembajakan dilakukan dengan hewan ternak, seperti kerbau, sapi, atau pun dengan mesin traktor.

    Pencangkulan dilakukan pada sisi-sisi yang sulit dijangkau, pada tanah tegalan yang arealnya relatif lebih sempit oleh alat bajak dan alat garu sampai tanah siap untuk ditanami.

    3. Pembentukan Bedengan
    Bedengan dibuat pada saat lahan sudah 70% dari tahap penyelesaian. Bedengan atau pelarikan dilakukan untuk memudahkan penanaman, sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. Pembentukan bedengan/larikan ditujukan untuk memudahkan dalam pemeliharaan tanaman, seperti pembersihan tanaman liar maupun sehatnya pertumbuhan tanaman.

    4. Pengapuran
    Untuk menaikkan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat sangat masam/tanah gembut, perlu dilakukan pengapuran. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur kalsit/kaptan (CaCO3). Dosis yang biasa digunakan untuk pengapuran adalah 1-2,5 ton/ha. Pengapuran diberikan pada waktu pembajakan atau pada saat pembentukan bedengan kasar bersamaan dengan pemberian pupuk kandang.

    6.3 Teknik Penanaman

    1. Penentuan Pola Tanam
    Pola tanaman harus memperhatikan musim dan curah hujan. Pada lahan tegalan/kering, waktu tanam yang paling baik adalah awal musim hujan atau setelah penanaman padi. Jarak tanam yang umum digunakan pada pola monokultur ada beberapa alternatif, yaitu 100 X 100 cm, 100 X 60 cm atau 100 X 40 cm. Bila pola tanam dengan sistem tumpang sari bisa dengan jarak tanam 150 X 100 cm atau 300 X 150 cm.
    2. Cara Penanaman
    Cara penanaman dilakukan dengan meruncingkan ujung bawah stek ketela pohon kemudian tanamkan sedalam 5-10 cm atau kurang lebih sepertiga bagian stek tertimbun tanah. Bila tanahnya keras/berat dan berair/lembab, stek ditanam dangkal saja.

    6.4. Pemeliharaan Tanaman

    1. Penyulaman
    Untuk bibit yang mati/abnormal segera dilakukan penyulaman, yakni dengan cara mencabut dan diganti dengan bibit yang baru/cadangan. Bibit atau tanaman muda yang mati harus diganti atau disulam. Pada umumnya petani maupun pengusaha mengganti tanaman yang mati dengan sisa bibit yang ada. Bibit sulaman yang baik seharusnya juga merupakan tanaman yang sehat dan tepat waktu untuk ditanam. Penyulaman dilakukan pada pagi hari atau sore hari, saat cuaca tidak terlalu panas. Waktu penyulaman adalah minggu pertama dan minggu kedua setelah penanaman. Saat penyulaman yang melewati minggu ketiga setelah penanaman mengakibatkan perbedaan pertumbuhan yang menyolok antara tanaman pertama dan tanaman sulaman.

    2. Penyiangan
    Penyiangan bertujuan untuk membuang semua jenis rumput/ tanaman liar/pengganggu (gulma) yang hidup di sekitar tanaman. Dalam satu musim penanaman minimal dilakukan 2 (dua) kali penyiangan.

    3. Pembubunan
    Cara pembubunan dilakukan dengan menggemburkan tanah di sekitar tanaman dan setelah itu dibuat seperti guludan. Waktu pembubunan dapat bersamaan dengan waktu penyiangan, hal ini dapat menghemat biaya. Apabila tanah sekitar tanaman Ketela pohon terkikis karena hujan atau terkena air siraman sehingga perlu dilakukan pembubunan/di tutup dengan tanah agar akar tidak kelihatan.

    4. Perempalan/Pemangkasan
    Pada tanaman Ketela pohon perlu dilakukan pemangkasan/pembuangan tunas karena minimal setiap pohon harus mempunyai cabang 2 atau 3 cabang. Hal ini agar batang pohon tersebut bisa digunakan sebagai bibit lagi di musim tanam mendatang.

    5. Pemupukan
    Pemupukan dilakukan dengan sistem pemupukan berimbang antara N, P, K dengan dosis Urea=133–200 kg; TSP=60–100 kg dan KCl=120–200 kg. Pupuk tersebut diberikan pada saat tanam dengan dosis N:P:K= 1/3 : 1 : 1/3 (pemupukan dasar) dan pada saat tanaman berumur 2-3 bulan yaitu sisanya dengan dosis N:P:K= 2/3 : 0 : 2/3.

    6. Pengairan dan Penyiraman
    Kondisi lahan Ketela pohon dari awal tanam sampai umur + 4–5 bulan hendaknya selalu dalam keadaan lembab, tidak terlalu becek. Pada tanah yang kering perlu dilakukan penyiraman dan pengairan dari sumber air yang terdekat. Pengairan dilakukan pada saat musim kering dengan cara menyiram langsung akan tetapi cara ini dapat merusak tanah. Sistem yang baik digunakan adalah sistem genangan sehingga air dapat sampai ke daerah perakaran secara resapan. Pengairan dengan sistem genangan dapat dilakukan dua minggu sekali dan untuk seterusnya diberikan berdasarkan kebutuhan.

    7. Waktu Penyemprotan Pestisida
    Jenis dan dosis pestisida disesuaikan dengan jenis penyakitnya. Penyemprotan pestisida paling baik dilakukan pada pagi hari setelah embun hilang atau pada sore hari. Dosis pestisida disesuaikan dengan serangan hama dan penyakit, baca dengan baik penggunaan dosis pada label merk obat yang digunakan. Apabila hama dan penyakit menyerang dengan ganas maka dosis pestisida harus lebih akan tetapi penggunaannya harus hati-hati karena serangga yang menguntungkan dapat ikut mati.

    7. HAMA DAN PENYAKIT

    7.1. Hama

    a. Uret (Xylenthropus)
    Ciri: berada dalam akar dari tanaman.
    Gejala: tanaman mati pada yg usia muda, karena akar batang dan umbi dirusak.
    Pengendalian: bersihkan sisa-sisa bahan organik pada saat tanam dan atau mencampur sevin pada saat pengolahan lahan.

    b. Tungau merah (Tetranychus bimaculatus)
    Ciri: menyerang pada permukaan bawah daun dengan menghisap cairan daun tersebut.
    Gejala: daun akan menjadi kering.
    Pengendalian:menanam varietas toleran dan menyemprotkan air yang banyak.

    7.2. Penyakit

    a. Bercak daun bakteri
    Penyebab: Xanthomonas manihotis atau Cassava Bacterial Blight / CBG .
    Gejala: bercak-bercak bersudut pada daun lalu bergerak dan mengakibatkan pada daun kering dan akhirnya mati.
    Pengendalian:menanam varietas yang tahan, memotong atau memusnahkan bagian tanaman yang sakit, melakukan pergiliran tanaman dan sanitasi kebun

    b. Layu bakteri (Pseudomonas solanacearum E.F. Smith)
    Ciri: hidup di daun, akar dan batang.
    Gejala: daun yang mendadak jadi layu seperti tersiram air panas. Akar, batang dan umbi langsung membusuk.
    Pengendalian: melakukan pergiliran tanaman, menanam varietas yang tahan seperti Adira 1, Adira 2 dan Muara, melakukan pencabutan dan pemusnahan tanaman yang sakit berat.

    c. Bercak daun coklat (Cercospora heningsii)
    Penyebab: jamur / cendawan yang hidup di dalam daun.
    Gejala: daun bercak-bercak coklat, mengering, lubang-lubang bulat kecil dan jaringan daun mati.
    Pengendalian: melakukan pelebaran jarak tanam, penanaman varietas yang tahan, pemangkasan pada daun yang sakit serta melakukan sanitasi kebun.

    d. Bercak daun konsentris (Phoma phyllostica)
    Penyebab: cendawan yang hidup pada daun.
    Gejala: adanya bercak kecil dan titik-titik, terutama pada daun muda.
    Pengendalian: memperlebar jarak tanam, mengadakan sanitasi kebun dan memangkas bagian tanaman yang sakit .

    7.3. Gulma

    Sistem penyiangan/ pembersihan secara menyeluruh dan gulmanya dibakar/dikubur dalam seperti yang dilakukan umumnya para petani Ketela pohon dapat menekan pertumbuhan gulma. Namun demikian, gulma tetap tumbuh di parit/got dan lubang penanaman.

    Khusus gulma dari golongan teki (Cyperus sp.) dapat di berantas dengan cara manual dengan penyiangan yang dilakukan 2-3 kali permusim tanam. Penyiangan dilakukan sampai akar tanaman tercabut. Secara kimiawi dengan penyemprotan herbisida seperti dari golongan 2,4-D amin dan sulfonil urea. Penyemprotan harus dilakukan dengan hati-hati.

    Sedangkan jenis gulma lainnya adalah rerumputan yang banyak ditemukan di lubang penanaman maupun dalam got/parit. Jenis gulma rerumputan yang sering dijumpai yaitu jenis rumput belulang (Eleusine indica), tuton (Echinochloa colona), rumput grintingan (Cynodon dactilon), rumput pahit (Paspalum distichum), dan rumput sunduk gangsir (digitaria ciliaris). Pembasmian gulma dari golongan rerumputan dilakukan dengan cara manual yaitu penyiangan dan penyemprotan herbisida berspektrum sempit misalnya Rumpas 120 EW dengan konsentrasi 1,0-1,5 ml/liter.

    8. P A N E N
    Ketela pohon dapat dipanen pada saat pertumbuhan daun bawah mulai berkurang. Warna daun mulai menguning dan banyak yang rontok. Umur panen tanaman ketela pohon telah mencapai 6–8 bulan untuk varietas Genjah dan 9–12 bulan untuk varietas Dalam.

    Tinggalkan komentar

    Filed under PERTANIAN